Wahyu: Bukan Sekadar Tahu, Tapi Bertemu

 



Wahyu dipahami sebagai kerelaan Allah untuk menyertai dan menopang manusia dalam usaha mencari dan mengenal Allah. Allah menyertai manusia sedemikian rupa sehingga menusia memperoleh suatu pengertian yang benar mengenai siapa Allah bagi dirinya, tetapi disisi lain Allah tidak memaksakan dirinya. Manusia tetap bebas untuk mengambil keputusan positif atau negatif terhadap Allah. Ia bisa menerima ataupun menolak wahyu tersebut.

Wahyu bukan hanya soal mengetahui atau memahami, tetapi wahyu soal mempercayai dan membuka diri, yang tidak bisa dilakuakn hanya dengan akal budi saja melainkan membutuhkan iman yang menjadi unsur terpenting. Iman adalah tanggapan manusia terhadap wahyu Allah. iman melibatkan kepercayaan, penyerahan diri, dan kerendahan hati. Tanpa iman, wahyu hanya menjadi sekedar pengetahuan saja dan dengan iman wahyu menjadi pengalaman perjumpaan Allah yang hidup.

 

Dalam Konsili Vatikan I dikenal 2 macam Wahyu yaitu Wahyu Alamiah dan Wahyu Adi Alamiah (melampaui yang Alamiah). Dalam wahyu Alamiah, Allah sendiri bisa dikenal sebagai dasar dan tujuan segala hal melalui hal-hal dunia ciptaan. Sementara itu dalam wahyu Adi Alamiah pengenalan akan Allah didasarkan pada kebijaksanaan dan kebaikan Allah sendiri.

Dalam Konsili Vatika II memandang wahyu di pahami sebagai proses pertemuan personal antara Allah dengan manusia. Yang dimana Allah menyapa Manusia sebagai sahabat dan bergaul dengan mereka. Wahyu tidak hanya terjadi lewat kata kata melainkan dalam perbuatan dan perkataan yang berkaitan satu dengan yang lainnya. Dengan kata lain perkataan dan perbuatan saling mendukung dan menjelaska. Pemahaman tentang wahyu berkembang dari Allah yang bisa dikenali lewat ciptaan atau ke personal dan relasional Allah yang ingin bersahabat dan berkomunikasi dengan manusia secara utuh.

Sifat- sifat mendasar Wahyu

·       Aspek Misteri ilahi, yaitu tindakan Allah yang Transenden.

·       Aspek Historis, yaitu peristiwa sejarah.

·       Aspek Pengetahuan, yaitu kesaksian pewartaan dan ajaran.

·       Aspek Personal, pertemuan pribadi antara Allah dengan manusia.

Objek wahyu bukan pertama-tama semua ajaran dan kebenaran-kebenaran yang terdapat dalam kitab suci dan tradisi gereja karena mereka hanyalah sarana, tetapi terutama dari Allah sendiri. Disini Yesus merupakan puncak wahyu sebab ia adalah putra Allah sendiri. Seluruh hidup kristus dan seluruh hidup nya perkataan, perbuatan, penderitaan, wafat, dan kebangkitan merupakan pelaksanaa kehadiran Allah di tengah-tengah manusia. Hidup yesus sepenuhnya selaras dengan Allah.

Relevansi dengan kehidupan sekarang ini,

  1. Manusia modern saat ini sangat menjunjung kebebasan, Sama halnya dengan Wahyu yang menghormati kebebasan itu. Manusia tidak dipaksa untuk berpikiran positif terhadap wahyu.
  2. Kehidupan Yesus sebagai puncak wahyu menjadi teladan nyata bagi kita, bahwa dalam hidup ini perkataan harus selaras dengan perbuatan, yang diwujudkan melalui sikap pengorbanan dan kepedulian terhadap sesama.
  3. Wahyu menjadi sumber inspirasi, sama seperti halnya Di era saat ini  manusia sering kehilangan arah dan membutuhkan inspirasi.

 

Merenungkan kembali wahyu, saya disadarkan bahwa Allah bukanlah Allah yang jauh, melainkan Allah yang mau dekat dan menyapa saya dalam kehidupan sehari-hari. Allah tidak memaksa saya untuk percaya, tetapi dengan penuh kesabaran memberi kesempatan untuk membuka hati kepada-Nya. Hal ini membuat saya untuk tidak berhenti hanya pada pengetahuan iman, tetapi sungguh berani menjadikan iman sebagai sikap hidup percaya, menyerahkan diri, dan hidup dalam kasih. Yesus Kristus sebagai puncak wahyu memperlihatkan bahwa hidup manusia menemukan makna sejati hanya bila selaras dengan kehendak Allah. Maka dalam kehidupan saya sekarang, tidak cukup berbicara tentang iman, tetapi harus berusaha mewujudkannya dalam tindakan nyata dalam kasih kepada sesama, kejujuran dalam pekerjaan, kepedulian terhadap yang lemah, dan kerendahan hati di tengah dunia ini. Dengan demikian, wahyu bukanlah sesuatu yang abstrak, melainkan pengalaman nyata akan Allah yang hidup dan menyertai saya setiap hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerygma, Diakonia, Liturgia, Koinonia dan Martyria

Maria Sebagai Typos Gereja

Menjadi Gereja yang Hidup: Pewartaan, Persekutuan, dan Pelayanan sebagai Wajah Kasih Kristus