Makna Gereja yang Katolik dan Apostolik
Istilah “Katolik” berasal dari kata Yunani katholikos yang berarti umum, menyeluruh, atau universal. St. Ignatius dari Antiokhia pada tahun 115 adalah orang pertama yang memakai istilah ini untuk menyebut Gereja, ketika ia berkata, “Di mana ada Kristus Yesus, di situ ada Gereja Katolik.” Ungkapan ini menegaskan bahwa dalam setiap perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh uskup, hadir seluruh Gereja universal. St. Sirilus dari Yerusalem kemudian menambahkan bahwa Gereja disebut Katolik karena tersebar di seluruh dunia, mengajarkan seluruh ajaran iman secara lengkap, dan terbuka bagi semua orang dari segala bangsa. Maka, kata “Katolik” tidak hanya mengandung arti geografis, tetapi juga teologis dan spiritual, yaitu Gereja yang menyeluruh dalam ajaran, lengkap dalam rahmat, dan universal dalam panggilan keselamatan.
Gereja disebut Katolik karena mencakup dua dimensi utama: kuantitatif dan kualitatif. Secara kuantitatif, Gereja tersebar di seluruh dunia dan merangkul semua bangsa. Secara kualitatif, Gereja menampung, memurnikan, dan menguduskan segala kekayaan budaya dan tradisi manusia. Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium menegaskan bahwa Gereja tidak hanya hadir di antara bangsa-bangsa, tetapi juga menjiwai dunia dengan semangat Kristus. Setiap Gereja setempat, entah paroki atau keuskupan, bukanlah cabang dari Gereja universal, melainkan Gereja yang utuh di tempat itu. Di dalam setiap jemaat kecil pun, selama Roh Kudus berkarya, hadir Gereja Kristus yang satu, kudus, Katolik, dan apostolik.
Kesatuan dan kekatolikan Gereja saling berkaitan erat. Kesatuan berbicara tentang hubungan lahiriah antara para anggota dan jemaat dalam satu persekutuan, sedangkan kekatolikan menyangkut hubungan batiniah yang dijiwai oleh Roh Kudus. Kesatuan tanpa kekatolikan bisa berujung pada ketertutupan, sedangkan kekatolikan tanpa kesatuan bisa kehilangan arah dan dasar iman. Karena itu, keduanya merupakan dua sisi dari satu misteri Gereja: kesatuan adalah sakramen yang menampakkan kekatolikan, dan kekatolikan adalah rahmat yang menjaga kesatuan.
Dalam perjalanan sejarah, istilah “Katolik” juga digunakan untuk membedakan Gereja yang bersatu dengan Paus dari kelompok-kelompok yang memisahkan diri pada masa Reformasi. Namun demikian, dalam Syahadat para Rasul, kata “Katolik” tetap mempertahankan makna aslinya, yaitu universal dan umum, Gereja yang terbuka untuk semua bangsa dan segala zaman. Gereja yang Katolik memiliki misi universal untuk menjadi sakramen keselamatan bagi seluruh umat manusia. Tugas perutusannya diwujudkan dalam pewartaan Injil, dialog dengan umat beragama lain, serta upaya membangun kesatuan umat Kristiani dalam kasih dan kebenaran.
Selain bersifat Katolik, Gereja juga bersifat Apostolik. Artinya, Gereja berakar pada iman para rasul dan tetap setia pada ajaran serta kesaksian mereka. Rasul-rasul adalah orang-orang yang dipilih langsung oleh Yesus untuk mewartakan Injil dan menjadi saksi kebangkitan-Nya. Gereja dibangun di atas dasar para rasul dengan Kristus sebagai batu penjuru. Setelah para rasul wafat, mereka mengangkat para pengganti yang kini dikenal sebagai para uskup, agar perutusan dan ajaran yang mereka terima dari Kristus terus dilanjutkan di sepanjang zaman. Inilah yang disebut suksesi apostolik.
Namun, sifat apostolik tidak berarti Gereja hanya mengulang ajaran masa lampau. Keapostolikan berarti kesetiaan yang hidup dan kreatif, di mana Gereja dengan bimbingan Roh Kudus terus mengungkapkan dan menghayati iman para rasul secara baru sesuai konteks zaman. Setiap anggota Gereja pun dipanggil untuk memahami dasar imannya dan memberi kesaksian tentang pengharapannya di tengah dunia. Dengan demikian, Gereja yang satu, kudus, Katolik, dan apostolik bukan hanya sebuah pernyataan iman, tetapi juga panggilan nyata bagi seluruh umat beriman untuk menghadirkan Kristus dan kasih-Nya kepada semua orang di setiap tempat dan waktu.
Materi ini menyingkapkan kedalaman makna Gereja sebagai persekutuan umat beriman yang hidup dalam kesatuan Roh Kudus dan berakar pada iman para rasul. Penjelasan mengenai sifat “Katolik” menegaskan bahwa Gereja tidak dibatasi oleh ruang, waktu, bangsa, atau budaya, melainkan terbuka untuk semua orang sebagai tanda kasih universal Allah. Gereja bukanlah lembaga tertutup, melainkan tubuh Kristus yang hidup dan hadir di tengah dunia untuk menampung, memurnikan, serta menguduskan segala kekayaan manusia. Demikian pula, penjelasan tentang sifat “Apostolik” menegaskan kesinambungan iman dan perutusan Gereja dari masa para rasul hingga kini. Melalui suksesi apostolik dan pewartaan iman yang setia, Gereja menjaga kemurnian ajaran sambil tetap beradaptasi dengan dinamika zaman. Materi ini menumbuhkan pemahaman bahwa Gereja yang sejati bukan hanya struktur atau organisasi, melainkan sakramen keselamatan yang menghadirkan Kristus dan karya Roh Kudus di dunia.
Menjadi bagian dari Gereja yang Katolik dan Apostolik berarti menyadari bahwa iman bukan sekadar warisan, tetapi sebuah panggilan untuk hidup dalam persekutuan dan perutusan. Kekatolikan mengajak setiap orang beriman untuk memiliki hati yang luas seperti hati Kristus—terbuka, menyambut perbedaan, dan menghargai keberagaman budaya sebagai wujud kasih universal Allah. Dalam dunia yang sering terpecah oleh sekat suku, agama, ras, dan kepentingan, semangat Katolik menantang umat untuk menjadi jembatan persaudaraan, bukan tembok pemisah. Gereja tidak dipanggil untuk memisahkan diri dari dunia, tetapi untuk menjiwai dunia dengan Roh Kristus sehingga setiap tempat menjadi lahan bagi karya keselamatan.
Sementara itu, keapostolikan menuntut kesetiaan pada ajaran iman yang diwariskan para rasul, sekaligus keberanian untuk mewartakannya secara baru dan relevan. Umat Kristiani diundang untuk menjadi saksi hidup Kristus — bukan hanya melalui kata, tetapi melalui tindakan kasih, kejujuran, dan pelayanan. Sebagaimana para rasul diutus ke segala bangsa, demikian pula umat beriman masa kini diutus ke “Galilea” modern: ke sekolah, dunia kerja, media sosial, dan lingkungan masyarakat.
Akhirnya, menjadi Katolik dan Apostolik berarti ikut ambil bagian dalam dinamika Roh Kudus yang terus memperbarui Gereja. Gereja tidak pernah selesai dibangun; ia senantiasa bertumbuh menuju kesatuan dan kekudusan yang lebih sempurna. Dalam diri setiap orang beriman, Gereja menjadi hidup bila kita bersedia membuka diri terhadap karya Roh, memelihara kesatuan dalam perbedaan, dan menjadi saksi kasih Kristus bagi dunia. Dengan demikian, setiap orang yang hidup dalam iman dan kasih menjadi tanda nyata bahwa Gereja sungguh satu, kudus, Katolik, dan apostolik—sebagaimana dikehendaki Kristus sendiri.
Komentar
Posting Komentar