Gereja bagi yang Paling Hina dan Kematian sebagai Pemenuhan Manusia

 

Kisah penghakiman terakhir dalam Matius 25 menjadi dasar bagi Moltmann untuk menegaskan bahwa ciri khas Gereja yang setia kepada Kristus adalah keterbukaan dan persahabatan dengan mereka yang paling hina. Bagi Moltmann, Gereja tidak cukup mengasihi orang miskin atau berdosa hanya pada tingkat perasaan atau kemurahan pribadi, tetapi harus menjadikannya sebagai identitas eksistensial dan cara hidup. Kristus yang tersalib menjadi gambaran Allah yang masuk ke dalam kegelapan manusia menjadi saudara ilahi bagi mereka yang merasa ditinggalkan dan berada di bawah bayang-bayang penderitaan. Dengan turun ke dalam kematian dan tempat penantian, Kristus menghadirkan persekutuan Allah ke dalam ruang-ruang terlupakan dan menyelamatkan manusia dari kesendirian yang paling radikal.

Sementara itu, Karl Rahner teolog Yesuit kelahiran 1904 yang hidup dalam konteks modernitas, perang, perkembangan teknologi, dan krisis makna kematian mengembangkan teologi yang berpusat pada antropologi. Baginya, manusia adalah spirit in the world, makhluk roh yang selalu melampaui dirinya menuju Yang Tak Terbatas, yaitu Allah. Karena kodratnya yang terbuka, manusia memiliki potentia obedientialis, kemampuan untuk mendengar dan menerima pewahyuan Allah yang hadir dalam sejarah. Keselamatan, menurut Rahner, berakar pada kehendak universal Allah untuk menyatukan seluruh manusia dalam kehidupan-Nya. Bahkan tanpa dosa pun, manusia tetap membutuhkan keselamatan karena hanya dalam rahmat Allah keberadaannya mencapai kepenuhan.

Pandangan Rahner tentang kematian menegaskan bahwa kematian bukan kepunahan, melainkan puncak pasivitas manusia di mana ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Saat seluruh aktivitas berhenti, manusia memasuki kegelapan yang hanya dapat diterangi oleh iman dan pengharapan. Dalam perspektif Rahner, kematian adalah peristiwa ketika sejarah seseorang diangkat oleh Allah menuju kebebasan yang tak terbatas dan kehidupan personal yang kekal. Dengan demikian, meskipun manusia tidak dapat mengontrol kematian, justru dalam ketidakberdayaan itulah ia mengalami penyempurnaan dan pemenuhan sebagai pribadi yang terarah kepada Allah.

Materi ini menyingkapkan bahwa Allah bukanlah pribadi jauh yang hanya memperhatikan manusia dari kejauhan, tetapi Allah yang hadir di tengah sejarah, luka, dan batas manusia. Dari Moltmann kita belajar bahwa kehadiran Allah ditemukan justru dalam penderitaan pada mereka yang terlupakan, tersakiti, dan tidak diperhitungkan. Gereja dipanggil untuk menjadi wajah Kristus tersalib itu: bukan hanya peduli, tetapi sungguh berpihak; bukan hanya memberi bantuan, tetapi menjadikan solidaritas sebagai identitas dan cara hidup.

Sementara dari Rahner, kita diingatkan bahwa manusia selalu hidup dalam dinamika antara keterbatasan dan kerinduan akan Yang Tak Terbatas. Kita sering ingin menguasai hidup, menghindari sakit, takut pada kematian. Namun Rahner menunjukkan bahwa kematian bukan sekadar akhir, tetapi momen total di mana manusia sepenuhnya berserah kepada Allah. Dalam ketidakberdayaan itulah manusia memasuki pemenuhan terdalam dirinya. Pandangan ini mengajak kita untuk memandang hidup dengan lebih jujur: bahwa penderitaan dan kematian bukan kegagalan, tetapi bagian dari perjalanan menuju kepenuhan yang Allah janjikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerygma, Diakonia, Liturgia, Koinonia dan Martyria

Maria Sebagai Typos Gereja

Menjadi Gereja yang Hidup: Pewartaan, Persekutuan, dan Pelayanan sebagai Wajah Kasih Kristus