Mariologi Dalam Konsili Vatikan II


Dalam menentukan dimana tempat maria diadakan voting. tentang maria dibahas dalam dokumen sendiri atau di integrasikan dalam dokumen konstitusi dogmatis. dan akhirnya dokumen maria dijadikan satu dengan lumen getium. Terdapat 2 golongan dalam voting yang dilaksanakan saat itu. yang pertama golongan 1 kardinal rufini, ia berkehendak agar dokumen maria disendirikan untuk menggarisbawahi keunggulan dan martabat maria. dan golongan yang ke 2 francis konig ia mengedepankan alasan teologi, historis, pastoral dan ekumenis. untuk membenarkan kelayakan pengintegrasian naskah maria kedalam lumen gentium.

    Corak biblis menempatkan maria dalam kerangka sejarah keselamatan sebagaimana hadir dan dinyatakan didalam kitab suci dan kemudian didalami dan dikembangkan oleh ajaran bapa gereja (lumen getium 55). dalam Lumen Gentium, titik tema antara eksegese katolik dan protestan terjadi. misalnya ketika maria digambarkan sebagai hamba Yahwe yang sederhana dan sebaga putri sion (LG 15).

    Corak ekumenis, paus Yohanes XXIII menekankan dalam konsili 1962 perlunya meningkatkan persekutuan antara segenap umat kristen.

    Corak keselamatan, dengan mengintegrasikan pembicaraan tentang maria dalam konstitusi dogmatis tentang gereja, konsili menempatkan mariologi salam konteks eklesial dan sejarah keselamatan.

Maria dalam perjanjian lama, benediktus XVI untuk mengenal maria secara benar , kita harus mempunyai pengetahuan tentang  kitab suci perjanjian lama. memang maria hidup pada perjanjian baru tapi gambarannya ada.

keputusan Konsili untuk mengintegrasikan ajaran tentang Maria mengajarkan bahwa iman Gereja selalu berusaha menjaga keseimbangan antara penghormatan dan kedalaman teologis. Maria menjadi teladan kerendahan hati, ketaatan, dan keterbukaan terhadap kehendak Allah. Ia bukan hanya objek devosi, tetapi model iman bagi setiap orang percaya yang dipanggil untuk mengambil bagian dalam sejarah keselamatan melalui kesetiaan sehari-hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerygma, Diakonia, Liturgia, Koinonia dan Martyria

Maria Sebagai Typos Gereja

Menjadi Gereja yang Hidup: Pewartaan, Persekutuan, dan Pelayanan sebagai Wajah Kasih Kristus